Tiga Laku Utama dalam Falsafah Jawa Kuno
![]() |
| Tiga Laku Utama dalam Falsafah Jawa Kuno - (riyantozenjiro) |
Dari sekian banyak simbol dan istilah Jawa kuno, laku hidup dapat dipahami melalui tiga pengelompokan besar berikut.
1. Laku Urip — Laku Perjalanan Hidup
Laku Urip berbicara tentang fase hidup manusia. Tentang bagaimana seseorang hadir di dunia, merasakan suka dan duka, kehilangan, keterbatasan, hingga akhirnya kembali pada asal.
Di dalam laku ini dikenal simbol-simbol seperti:
-
Dunia (kehidupan yang dijalani)
-
Lara (derita, ujian batin)
-
Pati (akhir, kepastian)
-
Lungu (kehilangan, sepi)
-
Suwung (kekosongan)
-
Sampurna (paripurna, selesai)
-
Wahyu dan Sumber Urip (petunjuk dan asal kehidupan)
Laku Urip mengajarkan bahwa semua manusia pasti melewati fase-fase ini, tidak bisa lompat, tidak bisa menolak.
Nasihat Jawa mengatakan:
“Urip iku mung mampir ngombe.”
Hidup itu hanya singgah sebentar.
Artinya, jangan terlalu sombong saat di atas, jangan terlalu putus asa saat di bawah. Lara bukan kutukan, pati bukan musuh, dan suwung bukan akhir. Semua adalah bagian dari perjalanan.
2. Laku Daya — Laku Rejeki dan Kekuatan Hidup
Jika Laku Urip berbicara tentang perjalanan, maka Laku Daya berbicara tentang kekuatan untuk menjalani perjalanan itu.
Di dalamnya dikenal istilah seperti:
-
Sri (kemakmuran)
-
Laras (selaras, seimbang)
-
Guna (manfaat)
-
Dana (pemberian)
-
Wisesa (kewibawaan)
-
Prawira (keteguhan)
-
Tirta (kesucian)
-
Rahayu (keselamatan)
-
Pendaringan dan Pancuran (simbol rejeki dan aliran daya)
Laku Daya mengajarkan bahwa rejeki bukan sekadar uang, tetapi daya hidup: kesehatan, pengaruh baik, keselamatan, dan kebermanfaatan.
Ada pitutur Jawa yang sangat terkenal:
“Rejeki wis ana sing ngatur, nanging lakumu sing nemtokake.”
Rejeki sudah ada yang mengatur, tapi caramu hidup yang menentukan.
Artinya, rejeki datang bukan hanya karena nasib, tetapi karena laku: sikap, niat, dan cara memperlakukan kehidupan.
3. Laku Jagad — Laku Alam dan Unsur Kehidupan
Laku Jagad berbicara tentang struktur alam semesta dan diri manusia. Dalam pandangan Jawa, manusia adalah jagad kecil (jagad alit) yang menyatu dengan jagad besar (jagad gede).
Di sini dikenal unsur-unsur seperti:
-
Gunung, Air, Angin, Api, Tanah
-
Kembang, Cahya, Besi, Sukma
Semua unsur ini bukan sekadar benda, tetapi sifat dasar kehidupan: kekokohan, kelenturan, gerak, semangat, keteguhan, keindahan, cahaya batin, kekuatan, dan jiwa.
Nasihat Jawa mengatakan:
“Manungsa kudu bisa nyawiji karo alam.”
Manusia harus bisa menyatu dengan alam.
Artinya, hidup yang seimbang adalah hidup yang selaras dengan hukum alam, tidak melawan, tidak berlebihan, dan tidak serakah.
Penutup: Menyatukan Tiga Laku
Tiga laku ini tidak berdiri sendiri.
Laku Urip memberi pemahaman tentang fase hidup,
Laku Daya memberi kekuatan untuk menjalaninya,
dan Laku Jagad memberi pondasi keseimbangan alam dan diri.
Pitutur penutup Jawa berkata:
“Sapa ngerti lakune, bakal ngerti uripe.”
Siapa yang memahami lakunya, akan memahami hidupnya.
Dengan memahami ketiga laku ini, manusia Jawa diajarkan untuk tidak sekadar hidup, tetapi mengerti hidup.

Posting Komentar untuk "Tiga Laku Utama dalam Falsafah Jawa Kuno"
Posting Komentar